Don’t call me, Mbok!

24 Mei

Pada saat saya masih menjasi siswa Sekolah Dasar, sekitar tahun 1975-an, televisi adalah barang yang mahal. Tidak semua orang memiliki pesawat TV, itupun hanya 2 warna alias hitam putih. Televisi yang paling besar adalah TV yang ada di kelurahan, yang di pasang di box di halaman rumah pak lurah. Di sekitar rumah saya pun hanya ada 2 orang yang punya televisi. Yang pertama, di rumah Pak Gunawan, seorang insinyur pertanian, dan yang satunya lagi adalah Pak Sayuti, seorang anggota DPR.

Tempat tinggal saya waktu itu adalah daerah transmigrasi, yang kemudian menjadi tempat tinggal sampai sekarang. Sehungga, walaupun desa saya terletak di Lampung, tapi hampir semua masyarakatnya adalah orang Jawa. Bahasa yang kami kuasai waktu itu adalah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Tidak heran kalau kami tidak bisa sedikit pun bahasa Lampung. Aneh, memang.

Sebagai masyarakat Jawa yang termasuk golongan bukan  priyayi atau bangsawan, sebutan Mbok sangat akrab di telinga anak-anak. Hampir semua anak di kampungku memanggil ibunya dengan sebutan Mbok. Hanya orang dengan kedudukan  yang baik yang memanggil ibunya dengan sebutan ibu. Tidak ada seorang kawan pun yang memanggil ibunya dengan sebutan mama apalagi mami.

Seiring dengan perkembangan zaman, tak dipungkiri kalau anak-anak sekarang jauh lebih baik secara ekonomi daripada anak-anak zaman dulu. Mereka tidak perlu merasakan nonton TV di kelurahan atau tetangga yang kaya, bersekolah tanpa alas kaki atau beralaskan sandal. Sekarang hampir tidak ada rumah yang tidak punya TV. Hampir semua rumah punya sepeda motor, handphone. Bahkan, internet pun bukan barang mewah lagi. Dan, tidak ada satu anak pun yang memanggil ibunya Mbok. Sampai-sampai seorang pembantu rumah tangga pun dipanggil anaknya dengan sebutan Mama. Seakan dia bilang kepada anaknya, “don’t call me Mbok.”

3 Tanggapan to “Don’t call me, Mbok!”

  1. dreesc 26 Mei 2010 pada 13:14 #

    iya yak…. panggilan mbok emang dah jarang banget… kadang dree masih suka denger bwt ke prt gitu pi yang udah tua gitu…. hehehehe

    • mbokratu 26 Mei 2010 pada 19:21 #

      Ho oh…Anakku aja ga mau panggil panggil aku Mbok, padahal aku kan Mbokratu he he he

  2. paijo 10 Juni 2010 pada 22:45 #

    Panjenengan memang gak di panggil Mbok….tapiMBOKDE…….
    (wkkkk……peace..!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: