Kenakalan Pada Anak

24 Mei

Berbicara tentang anak-anak memang menyenangkan, karena mereka adalah warna dalam kehidupan. Anak-anak bagaikan sehelai kertas putih yang kelak, isinya tergantung tinta yang mengisi lembaran hidupnya. Dan yang paling besar perannya dalam menulis peristiwa dalam jiwa seorang anak adalah orang tua, dan orang dewasa disekitarnya.

Ketika saya menonton TV di sore hari, saya terhenyak menonton berita seorang anak merokok, dan berkat-kata kotor. Kemudian ada berita lagi seorang anak senang memakan sabun, odol, dan benda lain yang bukan bernama ‘makanan.’ Ya Allah, tanda apa ini? Siapa yang salah, sebenarnya? Sang anak kah? Orang tuanya kah? Orang-orang disekelilingnya kah? Atau salah anak itu sendiri? Atau itu sudah takdir? Bukankah takdir bisa dirubah?

Sya tidak berhak menjawab semua pertanyaan itu. Saya bukan seorang psikolog. Saya bukan seorang dokter. Saya hanya seorang ibu, dan seorang pendidik yang prihatin dengan keadaan itu. Walaupun mungkin tidak akan memecahkan masalah, tapi setidaknya saya tidak ingin kejadian itu menimpa anak-anak saya. Dan, seandainya kita menjaga dengan baik, mudah-mudahan hal itu tidak akan terjadi. Tapi, semudah itu kah?

Lagi-lagi, ada faktor lain yang menghadang. Kemiskinan orang tua adalah salah satu penyebab ketidak pedulian mereka terhadap perkembangan anak. Kesibukan mereka untuk mencari nafkah telah menutup jendela hati yang seharusnya bisa mereka buka setiap hari untuk menjenguk pengembaraan jiwa sang anak. Tapi tetap, mereka tidak bersalah. Tidaklah penting mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Anak-anak sungguhlah lucu, mereka tidak tahu bahwa yang mereka perbuat itu benar atau salah. Tugas kitalah sebagai orang dewasa untuk menunjukkan kepada anak-anak yang salah dan yang benar. Ada cerita begini; Dua tahun yang lalu, ketika anakku masih kelas 3 SD, dia meninggalkan rumah karena mau main ke tempat kawannya. Dia tidak mungkin membawa kunci rumah, karena takut kalau anggota keluarga lain pulang tidak bisa masuk rumah. Tapi dia ingin main ke rumah kawannya. Alhasil, ketika saya pulang ke rumah, saya dapati rumah dalam keadaan kosong. Di handle pintu depan rumah tergantung sehelai kertas bertuliskan : Bu, aku ke tempat Kris, kunci rumah ada di bawah keset. Anda tahu keset itu ada di mana? Keset itu ada di depan pintu!!

Itulah salah satu contoh bahwa anak itu begitu lugunya, sehingga dia tidak akan tau sesuatu itu benar atau salah, baik atau tidak, sampai ada orang dewasa mengulurkan tangan untuk membimbingnya. Anak-anak adalah anak-anak. Orang dewasa tetap memegang peranan penting bagi mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: